Ini Jurus Ngurus Bisnis Sambil Ngurus Rumah Biar Gak Rempong – Bunda Regia
bunda-regia

Jangan menilai dulu jika saya belum selesai cerita, ini cerita saya sebagai seorang ibu rumah tangga yang seolah santai dan tidak berkegiatan, padahal itu tidak benar. Semenjak jadi ibunda dari Asyraf, anak saya. Segudang pengalaman dan pengetahuan kedewasaan yang tidak didapat di sekolah maupun di perguruan tinggi kini telah saya dapatkan.

Nama saya Regia Karlina, kelahiran Prembun, Kebumen, Jawa Tengah tahun 1992. Adapun nama lain saya Regia bunda Asyraf. Begitulah teman-teman memanggil saya setelah jadi ibu, bahkan panggilan ini lebih populer  semenjak jualan Online. Pekerjaan saya yang paling utama adalah menjadi ibu rumah tangga, merawat anak dan jualan. Selain itu, saya juga masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja.

Anak saya sekarang berusia 16 bulan, tentu masih tergolong sebagai anak-anak banget dan ribet. Mujurnya anak saya Muhammad Asyraf tidak terlalu rewel dan cengeng seperti anak-anak lainya, hal itu saya rasakan sampai dari ia lahir hingga kini. Bagi saya sebagai ibu pemula tentu keadaan ini sangat nyaman, karena saya kan kadang labil juga he he, biar tidak mudah bosen.

Walaupun masih agak labil dan masih tersisa kebiasaan malas dari masa remaja dulu, tapi saya sudah mulai biasa hidup dengan kerempongan. Kegiatan saya setelah bangun dan solat subuh  sebenarnya sama seperti ibu-ibu rempong lainnya, bersih-bersih rumah, pergi ke pasar, memandikan Asyraf, memberinya makanan dan minum susu. Jujur ya sebenarnya berbagai aktivitas itu bukan saya banget, tapi mau bagaimana lagi saya harus belajar menjadi ibu, dan bertanggung jawab untuknya.

Sebelum pindah ke Jogja, setiap hari saya melaju motor untuk menyelesaikan kewajiban lain yang tak kalah penting yakni kuliah, kalau waktunya kuliah saya meninggalkan anak di rumah bersama Eyangnya. Ya saya menikah muda waktu masih semester 3 akhir, dan saat masih di semester 6 saya melahirkan dan punya anak.

Suami saya sendiri masih belum bisa meninggalkan kerjaannya di rumah, ia menyarankan pada saya untuk mengontrak rumah saja di Jogja supaya tidak capek harus bolak-balik Prembun-Jogja tiap hari, biar Asyraf bersama eyangnya saja. Tapi saya menolaknya.

Sebagai ibu yang masih mempunyai tanggung jawab memberikan ASI, saya tidak mungkin meninggalkan Asyraf begitu saja, lebih baik saya capek daripada saya harus menunggu akhir pekan untuk pulang menjenguk buah hati. Bisa dibayangkan kekuatan cinta pada anak saya, hampir setiap hari menempuh jarak yang sangat jauh, sekitar 2×2 jam perjalanan.

Di sisi yang lain, ternyata karakter saya sebagai ibu sudah mulai terbentuk, mulai dari sering kangen hingga gagal fokus saat di kampus karena ingin cepat ketemu sama Asyraf, ya tentu itu tidak bisa disangkal. Apalagi jika bicara perihal tumbuh kembangnya, setiap ibu pasti ingin anaknya menjadi yang terbaik. Karena menurut beberapa para ahli tumbuh kembang anak, jika kedekatan anak sama orangtuanya kurang merekat maka bisa mengganggu perkembangan fisik maupun kecerdasannya. Hal ini juga disampaikan dokter persalinan saya dulu.

Dan pada akhirnya saya pun sekarang memilih ngontrak di jogja bersama keluarga, rutinitas kegiatan sih tidak jauh berbeda dengan di Kebumen. Di tengah arus gelombang kota dan lingkungan kuliah, saya masih Regia yang dulu, yang suka belanja, sementara jika di rumah, saya sebagai ibu bagi anak dan istri bagi suami.

Kebiasan belanja itu tentu membuat saya harus memutar otak dengan keras bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan. Karena penyakit yang satu ini mudah kambuh, jadi saya harus bisa mengantisipasinya he he… Entahlah saya ini memang tipe perempuan yang mudah tertarik dengan barang-barang baru, apalagi melihat teman mengenakan baju baru pasti saya juga harus beli. Parahnya setelah belanja, saya baru sadar jika saya sudah menjadi ibu, dan anak butuh susu. Kejadian ini sering terjadi, tidak hanya satu atau dua kali.

Dengan kondisi yang tidak bisa dihindari ini, akhirnya saya mengeluarkan jurus keibuan ketika lagi sadar. Hingga saya memutuskan untuk berjualan online. Tentu saya juga tidak banyak tahu cara menjadi pedagang, karena selama ini saya hanya jadi konsumen saja.

Sempat bingung mau jualan apa, dan tentu agak berat untuk memilihnya karena saya juga punya tanggungan yang tak kalah beratnya di rumah, mengurus anak dan suami. akhirnya saya memilih untuk jualan yang berawal dari kesenangan saya sendiri, dari sepatu, hijab, gamis orang tua sampai gamis anak-anak.

Awal mulanya saya tidak terlalu mendapatkan penghasilan yang banyak, apalagi untuk beli susu anak maupun vitaminnya. Jujur penghasilan ini hanya buat diri saya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan Asyraf saya tetap minta sama suami.

Akhirnya saya meningkatkan pemasaran produk di tengah-tengah kesibukan dalam rumah tangga, jika ditanya apakah bosan untuk menjalaninya? Tentu saja tidak, justru itu tujuan utama saya, supaya bisa membesarkan anak dengan tangan saya sendiri, dan ketika pengen belanja tidak memotong hasil keringat suami.

Namun saya menyadari saat saya sedang sibuk dengan kegiatan rumah dan menerima order customer, saat itu pula anak rewel, saya pun lebih memilih menemani anak serta meninggalkan kerjaan. Saya mengajaknya bermain dan kadang pula jalan-jalan sembari cari baju buat jualan. Jujur itu bukan beban melainkan salah satu cara mengatasi kejenuhan.

Walaupun dalam dunia bisnis ini merupakan suatu kendala, menurut saya bukan, saya tidak menganggapnya sebagai kendala berbisnis. Karena bagi saya sebagai ibu rumah tangga yang bergerak di bidang bisnis online harus menyadari tujuan awal dari bisnis itu sendiri, yaitu untuk menfasilitasi proses asuh anak agar ia tidak kekurangan gizi.

Jika kita membalik pengertian di atas, maka keadaan rumah tangga akan berubah. Tujuan bisnis itu sendiri akan diabaikan. Hal ini terjadi pada teman saya yang kerapkali cekcok sama suaminya gara-gara ia cuek sama anaknya, lebih memilih sibuk bermain ponsel demi menerima order dari customer.

Kalau saya justru kebalik, saya saja pernah tutup order selama 1 minggu karena Asyraf lagi sakit. Tahu sendiri bagaimana jika anak lagi sakit, tidak bisa ngomong, apalagi menunjuk di mana yang sakit, hingga ibunya jadi bingung, akibatnya jadi rewel sekali. Tapi saya harus tetap sabar, dalam batin saya, “Ini cobaan, jadi saya harus sabar.”

Dari situ saya bisa merasakan betapa saya diajarkan pengalaman yang luar biasa, betapa butuhnya membekali diri dengan menabung untuk keluarga. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga kita, seperti sakit dadakan dan lain sebagainya walaupun kita tidak mengharapkannya.

Alhamdulillah semenjak jualan online, saya dapat penghasilan yang cukup, hal ini tidak lain berkat dorongan serta doa dari orang terdekat. Bahkan suami saya tidak mau ambil bagian dalam jualan ini, dia menyuruh agar uangnya ditabung saja untuk kebutuhan saya. Ia pun menegaskan jika masih kurang jangan segan untuk minta sama dia. Tapi saya sudah mulai sadar jika sekarang saya adalah ibu di mana setiap tindakan harus penuh perhitungan.

Akhirnya usaha online inilah yang membuat saya bisa merawat anak dan membelikan kebutuhannya yang lain, saya pun kini setiap bulan sudah bisa menambah tabungan. Dengan modal tabungan itu akhirnya saya bisa banyak menyetok barang di rumah supaya waktu saya tidak dihabiskan di luar untuk mengambil barang di pasar sesuai dengan kebutuhan pelanggan, hingga ada banyak waktu luang bersama Asyraf. Pasti dia lebih senang dan sayang sama Mamanya.

Pesan saya untuk para pedagang online, khususnya pada ibu yang masih punya bayi, jualan online jangan sampai membuat kita rempong, asalkan kita bisa tahu tujuan bisnis itu untuk apa, pasti Tuhan akan memberikan jalan.

JOIN THE CONVERSATION

Close Menu

JOIN THE CONVERSATION

saya bunda hebat

Silahkan masukkan alamat email Bunda dan nomor telepon pada formulir dibawah ini. Dan dapatkan Guide Book Bunda Hebat Anti-Rempong.