Konsekuensi IRT Rempong Yang Sering Ngintilin Suami Dinas – Bunda Ratih
bunda-ratih

Bersuamikan seorang yang bekerja di Kedutaan harus siap dengan segala konsekuensi, termasuk sering ikut berpindah tugas dari satu negara ke negara lainnya selama beberapa tahun. Sebagai istri yang baik nan soleha, ehem..saya pun harus selalu ready dengan segala kemungkinan. Ya beda negara tentu beda kultur dan budaya, sebagai pendatang kita harus bisa cepat menyesuaikan diri.

Nama saya Ratih Suryati, sebelum menikah, saya memang sudah mempersiapkan diri dengan konsekuensi pekerjaan calon suami. Hampir dua bulan setelah menikah, suami saya harus bertugas dan magang di India selama 3 bulan.

Bisa dibayangkan dong gimana bahagianya jadi pengantin baru? Tapi itu cuma sebentar , karena kami harus terpisah secara fisik untuk sementara waktu. 3 bulan berlalu, rasanya kok kayak 3 tahun, hiks.., saya dan suami pun berkumpul kembali selama 1 bulan untuk kemudian harus di’tinggal’ lagi.

Suami saya mendapatkan beasiswa kursus di Belanda selama 2 bulan. Dengan kondisi seperti itu, saya pun jadi terbiasa ‘mandiri’. Pada penempatan pertama kami di Cairo, Egypt, saya mulai dikenalkan dengan aktivitas ‘non domestik’.

Bunda Ratih
Bunda Ratih saat menghadiri acara kemerdekaan RI ke 72 bersama perkumpulan ibu-ibu diplomat di New York, USA

Kegiatan ‘non domestik’ yang saya maksud di sini adalah di mana istri-istri pendamping suami diplomat dikumpulkan dalam satu wadah yaitu Dharma Wanita Persatuan. Ini salah satu konsekuensi yang harus saya terima, para istri di’tuntut’ untuk bisa mendampingi dan menunjang karier suami sebagai diplomat baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Bagi saya emak-emak rempong yang senang berpetualang, pengalaman selama penempatan pertama sangatlah mengesankan. Bukan hanya ilmu baru yang saya dapatkan tapi juga silaturahim dan wawasan yang semakin meluas. Nah kini di penempatan kedua di New York, USA saya juga optimis akan banyak memberikan peluang kepada saya untuk terus belajar, menambah keahlian di berbagai bidang, me-manage waktu antara urusan domestik dan non domestik.

Bunda ratih
Bunda Ratih bersama suami dan kedua anaknya

Aktivitas rutin saya sehari-hari sih sebenarnya tidak beda jauh dengan para ibu lainnya yang harus bangun lebih pagi karena harus menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak dan suaminya.

Sebelum turun ke dapur, saya memastikan  dulu apakah anak-anak sudah bangun dari tidurnya. Tak jarang pula saya bekerja sama dengan suami. Biasanya suami yang bertugas membangunkan anak-anak dan membimbing mereka untuk sholat subuh, sedangkan saya sudah berkutat di dapur.

Alhamdulillahnya seringkali anak-anak bangun tanpa harus dibangunkan, mereka mandi, menyiapkan baju, sholat subuh atas inisiatif sendiri (ada kalanya mereka lebih dulu bangun dari saya & suami, hehehe)

Nah usai menyiapkan sarapan dan memastikan anak-anak sudah selesai dengan segala rentetan aktivitasnya, saya pun melanjutkan aktivitas menyiapkan bekal mereka di dapur.

Biasanya pukul 7.30 anak-anak dan suami selesai sarapan serta siap berangkat ke sekolah. Kalau suami tidak ada halangan (baca: harus berangkat lebih pagi atau dinas ke luar kota/luar negeri), maka anak-anak diantar ke sekolah dengan abinya. Tapi kalau ternyata suami sedang tak bisa mengantar ke sekolah, jadilah emaknya ini yang mengantar mereka (segera ganti kostum kebangsaan, baca:daster).

Setelah semua selesai, saya pun kembali jadi ibu negara (baca IRT rempong) dengan seabrek kegiatan a.k.a bebenah (nyapu, ngepel, cuci piring, cuci baju, setrika dll). Segambreng aktivitas rutin tersebut seringkali memang tidak bisa saya selesaikan semuanya 100% dalam waktu yang cukup singkat. Apalagi kalau ada aktivitas ‘non domestik’.

Saya harus mempersiapkan diri untuk berangkat menuju agenda ‘non domestik’. Buat saya disiplin waktu/on time adalah hal yang sangat penting terutama jika berurusan dengan orang lain. Dengan terpaksa segala urusan domestik saya tunda.

Bunda Hebat Anti Rempong
Bunda Ratih berpose bersama istri diplomat dari beberapa negara saat menghadiri kegiatan ‘non domestik’ di KJRI New York, USA

Tapi apapun jenis aktivitas ‘non domestik’nya, saya harus ada di sekolah anak-anak pukul 2.10 pm. Peraturan sekolah disini cukup ketat, orangtua harus mengutamakan menjemput anaknya di sekolah. Apabila lewat dari 5 menit, anak akan dikumpulkan di auditorium, lewat dari 10 menit, maka orang tua murid mendapat surat peringatan dari sekolah. Ada juga sekolah yang menerapkan denda uang, apabila terlambat menjemput 5 menit maka akan dikenakan denda $10 dan berlaku kelipatannya. Sangar sih kedengarannya, tapi ini semua demi kebaikan anak-anak juga. Kelihatan di sini ortu murid lebih ‘takut’ kepada peraturan sekolah daripada ketemu preman, hehehe…

Pulang dari sekolah seringkali anak-anak minta untuk mampir ke perpustakaan umum (jaraknya sih ga terlalu jauh, masih di sekitar sekolah & rumah). Yang membuat anak-anak selalu antusias ke perpustakaan adalah tempatnya yang nyaman (bersih, full AC, koleksi bukunya cukup banyak, toiletnya harum) dan gratis untuk keanggotaannya. Di sini bebas pinjam buku maksimal 5 buah untuk 2 minggu.

Nah setelah mereka puas di perpustakaan, kami pun melanjutkan jalan kaki menuju rumah. Sesampainya di rumah, anak-anak selalu saya ingatkan untuk sholat, tapi terkadang belum sempat saya ingatkan mereka sudah inisiatif untuk wudhu & sholat.

Usia mereka memang belum masuk kategori aqil baligh, tapi sejak balita mereka saya biasakan untuk tidak pernah mninggalkan sholat. Sekalipun seringnya sholat dzuhur dijamak dengan ashar karena waktu sekolahnya yang baru selesai menjelang sore dan tidak terdapatnya fasilitas untuk umat muslim sholat di sekolah.

Kalau sudah selesai sholat, saya mempersilakan mereka untuk bermain (Lego’s Time). Saya memang termasuk ortu yang membatasi gadgets/games dan TV kepada anak. Anak-anak boleh menonton TV di hari libur dan itu pun saya yang memilah apa yang boleh mereka tonton. Sementara hari libur pun mereka jarang nonton karena saya dan suami lebih suka mengajak anak-anak ‘explore’ ke luar rumah.

Sambil menanti adzan maghrib, sebagai emak yang juga punya hobi memasak, saya kembali turun ke dapur mempersiapkan makan malam. Adzan maghrib berkumandang, saya membimbing anak-anak untuk sholat maghrib dan tilawah/muraja’ah juz 30 (sebagai modal bacaan sholat). Selama kurang lebih 10-20 menit.

Setelah itu, kami makan malam sekitar pukul 20.00. Tapi anak-anak seringnya lebih suka menanti abinya pulang dan makan bersama (sekitar jam 9an malam). Suami saya paling cepat sampai rumah jam 7-8 malam. Seringnyaaa di atas jam 9 jadi anak-anak terpaksa saya bujuk untuk makan lebih dulu tanpa menanti abinya.

Di musim panas siangnya terasa lebih panjang, waktu sholat pun jadi berpengaruh. Anak-anak terpaksa makan malam & tidur agak telat karena mereka belum mau tidur kalau belum sholat isya, sementara Isya pada waktu awal ‘summer’ hampir jam 10 malam.

Kalau usai sholat isya, saya ajak mereka untuk bersih-bersih (sikat gigi, wudhu sebelum tidur, dan lain-lain). Kalau abinya pulang cepat, mereka selalu minta dibacakan buku cerita sama abinya sementara saya lanjut dengan rutinitas yang tertunda (selalu).. Maklumlah karena semua jenis pekerjaan IRT saya ‘handle’ sendiri, jadinya ya itu (selalu) tertunda dikarenakan ada aktivitas ‘non domestik’ yang harus saya lakukan. Begitulah kurang lebihnya rutinitas yang saya lakoni selama ini.

Jika ditanya apakah pernah merasa jenuh? Menurut saya rasa jenuh itu fitrah/wajar. Setiap manusia pasti mengalami rasa jenuh. Biasanya saya salurkan rasa jenuh tersebut dengan cara meng-olahkan raga & jiwa. Saya salurkan rasa jenuh lewat kesenangan saya yaitu ‘traveling’, wisata kuliner, uji coba resep masakan dan lain-lain. Misalkan, di saat anak-anak sekolah & suami bekerja saya sempatkan waktu untuk berolahraga dengan jalan kaki di sekitar jalan yang biasa saya lewati. Atau sekedar berlari kecil memutar lapangan di sekolah anak-anak (kalau sore & hari libur terbuka untuk umum).

Aktivitas semacam ini sudah saya lakukan sejak masih ‘single’. Bedanya dulu waktu ‘single’ saya meng-aktifkan diri di beberapa kegiatan sekolah/kampus. Terutama kegiatan jalan-jalan/rihlahnya karena saya suka ‘traveling’. Saya suka berpetualang dengan teman-teman walaupun sekedar wisata kuliner.

Bunda Ratih Suryati
Bunda Ratih saat waktu luang, kadang mengisi kegiatannya dengan travelling dan wisata kuliner ke beberapa tempat

Selama saya tinggal di negeri tercinta Indonesia pun saya menyalurkan kejenuhan dengan berjalan kaki, biasanya dari rumah menuju pasar tradisional atau tempat-tempat tertentu yang agak jauh dari rumah. Adapun maksud dari meng-olah jiwa adalah saya salurkan kejenuhan lewat wadah ilmu.

Misalnya, saya belajar tahsin, pengajian rutin, kajian-kajian ilmu dan sebagainya yang otomatis berkumpul dengan orang-orang salih dengan harapan saya tidak larut dalam kejenuhan dan mendapatkn tausyiah secara langsung maupun tidak langsung. Ini sih ‘mood buster‘ banget pokoknya.

Selain itu saya juga senang ikutan grup ‘cooking and baking‘ via darat maupun maya. Senang berkumpul dengan teman-teman baru yang sehobi. Hobi bikin kue, masakan, kerajinan tangan dan sebagainya.

Nah dalam hal kerepotan mengurus RT, sebagai emak-emak pastilah perasaan ini pernah dialami setiap IRT. Apalagi selama saya tinggal di NY faktor birokrasi dan  administrasi pemerintah USA terhadap UU pekerja yang agak sedikit rumit menjadi alasan utama kenapa kami tidak membawa ART selama penempatan kedua ini. Terlebih anak-anak juga sudah bisa mandiri. Saya memang siapkan kemandirian merek sejak usia batita. Terutama putri pertama kami, sejak usianya 3 tahun saya sudah memisahkan tempat tidur/kamarnya dengan saya & suami. Faktor utamanya sih karena waktu itu saya juga sedang hamil anak kedua.

Awalnya memang tidak tega tapi seiring berjalannya waktu, sampai saat ini putri kami (10th) lebih senang tidur di kamar sendiri meski sesekali masih suka ‘nyempil’ di kamar kami.

Sedangkan putra kedua kami dibiasakan tidur di kamarnya sendiri sejak usia 5-6 tahun. Bangun tidur saya mengajarkan mereka merapikan tempat tidurnya sendiri, dan semua aktivitas-aktivitas dasar lainnya.

Kadang untuk pekerjaan RT seperti nyapu, ngepel, cuci piring, berkebun, dsb mereka seringkali berebut. Rebutan untuk mengambil alih pekerjaan uminya. Hampir setiap libur sekolah, saya arahkan mereka untuk meringankan pekerjaan rumah dengan cara yang menarik tentunya. Misalnya, berkebun (baca: potong rumput, siram tanaman dll), membantu dalam menyiapkan makanan (kocok telur, aduk-aduk masakan di wajan, mengiris bahan makanan dan sebagainya), memisahkan sampah kering dan sampah basah, membersihkan kamar mandi (ini kegiatan paling seru bagi anak-anak karena mereka bisa sekalian main air), merapihkan mainan masing-masing setiap kali selesai bermain, menyetrika baju main/baju rumahan sendiri (setrikaan saya setting tidak panas).

Awalnya memang agak sulit membiarkan mereka mengerjakan pekerjaan rumah, karena saya harus dua kali kerja. Seperti hasil cucian piring yang tak terlalu bersih, sebagai emaknya saya pun diam-diam mencuci ulang, hasil sapuan/pel mereka yang belum sesuai standar saya, maka dengan dalih ”Ummi hanya sekedar mengecek saja (padahal saya kerjakan ulang)” hehe..

Bunda Ratih Suryati

Buat saya membiasakan anak-anak sejak dini terlibat dalam urusan pekerjaan RT adalah hal yang sangat penting untuk masa depan mereka sendiri. Apalagi saya tidak pernah memakai jasa ART sejak kecil sampai menikah, belum lagi faktor sering ditinggal suami dinas untuk beberapa hari bahkan beberapa bulan. Hal tersebut tentu amat sangat meringankan saya dan semakin hari saya merasakan hasil positifnya. Anak-anak jadi lebih mandiri bila dibandingkn dengan anak seusia mereka. Hasil pekerjaan mereka pun semakin membaik (tanpa harus saya kerjakan ulang).

Alhamdulillah saya bersyukur keluarga mendukung segala aktivitas yang saya jalani. Terutama suami dan ortu. Dukungan suami berupa izin keluar rumah dan pendanaan tentunya, hehehe.. Sedangkan dukungan yang diberikan ortu berupa do’a. Saya haqul yaqin segala kemudahan yang selama ini saya dapatkan tidak lepas dari keridhoaan dan do’a-doa indah mereka.

Dengan pengalaman ini saya sadar, bahwa ilmu tidak membutuhkan kita tapi kitalah yang membutuhkan ilmu. “Learning by doing is better than never learn anything.”

JOIN THE CONVERSATION

Close Menu

JOIN THE CONVERSATION

saya bunda hebat

Silahkan masukkan alamat email Bunda dan nomor telepon pada formulir dibawah ini. Dan dapatkan Guide Book Bunda Hebat Anti-Rempong.