Mengatasi Rempongnya Hidup di Negeri Orang – Bunda Yuke
bunda-yuke

“Hei, sedang ada di tembok Berlin nih… Di sini hawanya dingin bangeett, sudah masuk winter sih..”

Kalau Bunda sering kepoin status IG para artis yang berwisata ke luar negeri, Bunda pastinya akan membayangkan betapa enaknya hidup di negeri orang. Bisa selfie di tempat-tempat keren, menikmati hidangan kuliner yang berbeda, dan menikmati salju di musim dingin.

Eits, namun saya kasih tahu ya Bunda, hidup di negeri orang ternyata tidaklah seenak yang ada di foto-foto IG dan Facebook. Kalau sekadar berwisata yang tinggalnya cuma satu mingguan mungkin tidak cukup rempong, tapi bila harus bertahun-tahun?

Maka percayalah, bahwa dibalik foto-foto indah itu ada kerempongan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Inilah yang saat ini sedang saya alami.

Nama saya Bayuarti Kusumaningrum. Tolong jangan dipanggil Bayu yaa, dari dulu saya biasa dipanggil Yuke. Sekarang usia saya sudah 37 tahun, sudah punya tiga orang anak. Sudah tidak masuk kategori mahmud abas (mamah muda anak baru satu) lagi. Anak saya paling besar laki-laki usianya 13 tahun, yang dua perempuan semua; 12 tahun dan 4 tahun.

Sewaktu masih di Indonesia saya bekerja sebagai PNS, namun saat memutuskan untuk tinggal di Jerman, saya terpaksa harus mengambil Cuti Luar Tanggungan Negara (CTLN).

Tiba di Jerman pada bulan Juni tahun lalu. Kami tinggal di sebuah flat (wohnung) di Potsdam, sebuah kota kecil dengan jarak sekitar (30 – 40 menit dari Berlin). Tiga hari setelah menginjakkan kaki di jerman, saya mesti melaporkan kedatangan diri dan anak-anak ke kantor pemerintah di sini (semacam kantor kecamatan) di wilayah Rathaus, di mana harus membuat janji dengan Auslaender Behoerder (ABH) untuk memperpanjang izin tinggal kami.

Bunda Yuke
Bunda Yuke bersama keluarga tercinta

Fyi, disini semua hal harus tepat waktu, warga Jerman sangat disiplin dan sering membuat janji atau termin dahulu bila ingin membuat suatu pertemuan. Baik dengan dokter,  kantor-kantor pemerintah, teman, tukang servis, dan lain-lain.

Persoalan berikutnya adalah mendapatkan sekolah untuk anak-anak. Alhamdulillah, walau anak-anak harus turun kelas, dalam rangka penyesuaian terhadap bahasa Jerman.

Menjadi seorang ibu rumah tangga di negeri orang tentu pengalaman pertama bagi saya. Rutinitas saya berubah dari yang dulu menyiapkan sarapan dan bekal seadanya sambil berdandan sebelum ke kantor, sekarang jadi lebih fokus membuatkan sarapan dan perbekalan berat  berupa roti plus nasi serta lauknya untuk keluarga.

Mengapa semua perbekalan dari rumah? Ya, mengingat sisi kehalalan, kebersihan dan juga dalam rangka berhemat, apalagi biaya hidup di Jerman tidaklah murah.

Biaya yang wajib dikeluarkan per bulan selain untuk sewa rumah kurang lebih 600 euro, belum biaya listrik, air, wifi, sekolah, transportasi, serta membayar asuransi kesehatan yang tidak sedikit. Di sini memang setiap orang diwajibkan untuk memiliki asuransi kesehatan.

Alhamdulillah waktu sekolah anak-anak disini untuk Grundschule (SD) dan Gesamtschule/Gymnasium (SMP) dimulai pukul 08.00 CET.  Sarapan andalan disini adalah serba roti atau buah. Biasanya saya memilih roti tawar yang bisa dibalut dengan selai coklat atau dibuat sandwich ala-ala.

Selain itu anak-anak dan suami juga minta bekal makan siang nasi dan lauk. Agar tidak rempong menyiapkan bekal saat pagi hari, biasanya saya masak lauk pada sore hari sebelumnya, jadi paginya tinggal dihangatkan dan di taruh pada kotak makan saja.

Waktu pagi adalah waktu-waktu yang rempong banget bagi setiap ibu. Harus bangunin anak, nyiapin sarapan, bersihin rumah, dan lainnya. Itu pun belum kalau ditambah ngambek dan rewelnya anak-anak. Dua anak dan suami sudah berangkat sekolah serta ke kantor, masih ada si bungsu yang harus diurus.

Sarapan bagi saya dan keluarga tidak harus dengan nasi, yang penting perut sudah diisi walau hanya dengan sepotong roti dan segelas teh atau susu. Maklum pula ini di negara Eropa yang tidak ada padi tumbuh subur di persawahan.

Usai mengantar si bungsu ke TK setempat jangan dibayangkan lalu jalan-jalan yaa Bunda, tidak. Mau dimananapun itu pada dasarnya kegiatan ibu rumah tangga tidak jauh berbeda. Saya yakin bila di Indonesia pun kegiatannya akan serupa.

Saya mesti juga belanja ke supermarket, kadang bekerja paruh waktu, kadang pergi juga ke pengajian. Ya, di Jerman juga ada kumpulan ibu-ibu pengajian lho. Jika tidak ada kegiatan, ya kembali lagi ke flat, berbenah dan membersihkan rumah.

Apakah sudah berhenti disitu..? Oh, No.. Tentu saja tidak.

Yang jemput anak-anak pulang sekolah siapa? Ya, saya juga tho. Jam 15.00 CET saya mesti menjemput si kecil. Tidak boleh terlambat.

Suasana sore saat berkumpul dan bercengkerama bersama anak-anak adalah momen-momen yang paling ditunggu. Saat-saat seperti itu saya gunakan untuk memasak. Mencoba berbagai resep kue dari Youtube, atau kalau pas kangen masakan gorengan asal kampung halaman, obat kangen rumah Indonesia.

Oh, iya.. kalau di Indonesia mungkin mendapatkan makanan cukup mudah ya, sebenarnya di Jerman juga stock bahan makanan melimpah sih, tapi kalau bahan makanan halal saya harus agak jauh membelinya. Saya sering berbelanja daging ayam atau sapi dan lain-lain ke Supermarket Turki di Berlin.

Untuk menuju Berlin saya mesti membeli tiket yang terintegrasi.  Bisa tiket harian, bulanan, atau paling murah tiket tahunan, tentu saja saya pilih tiket tahunan. Bila ingin berbelanja bahan makanan Indonesia seperti kecap, saus, mie instan, tersedia di toko asia seperti Go Asia atau Vinh-Loy Berlin. Sebenarnya di sekitar tempat tinggal saya ada juga supermarket seperti yang saya sebutkan tadi, namun tempatnya kecil dan persediaannya terbatas.

Menjelang malam, aktivitas pun mulai sedikit santai sambil mengingatkan anak-anak agar mengerjakan PR-nya. Kadang saya membantu semampu yang dibisa, bila tidak bisa, saya akan bertanya pada Pak suami untuk membantu PR mereka. PR buat anak cukup sulit, walau mereka masih setingkat SD, tapi PR-nya pakai bahasa Jerman semua.

Nah, paling seru tuh kalau weekend tiba. Kami sebisa mungkin meluangkan waktu untuk telepon atau video call dengan orangtua dan saudara di Indonesia. Selain itu yaa jalan-jalan dong ya. Tempat-tempat yang kami kunjungi biasanya di Berlin dan sekitarnya saja.

Menjadi hausfrau alias Ibu Rumah Tangga mempunyai suka dukanya sendiri. Apalagi bila di negeri orang.

Perasaan jenuh itu pasti ada.

Kadang saya ingin bekerja kembali seperti saat masih di Indonesia. Atau malah ingin melanjutkan studi master di UI, cita-cita lama saya.

Menurut saya jenuh itu wajar, asalkan tidak berkepanjangan. Saat jenuh tiba, biasanya saya punya me time khusus. Kadang jalan-jalan ke mall, pergi ke luar kota, bertemu teman-teman dari Indonesia, menonton film atau lagu Indonesia. Kadang datang ke pengajian di Masjid IWKZ, masjid Indonesia yang ada di Berlin.

Bunda Yuke bersama perkumpulan ibu-ibu pengajian IWKZ di Jerman

Selain itu saya juga ikut kursus Bahasa Jerman di Volk Hoch Schule (vhs) Berlin dari tingkat A1 hingga B1. Gak lucu juga kan masa tinggal di Jerman tapi gak bisa bahasa Jerman? Hehe.

Sekarang saya sih sudah lebih percaya diri ketika ngobrol dengan penduduk asli Jerman saat bertemu mereka di kereta, tram atau bis, meski kadang-kadang masih terdapat salah intonasi tapi mereka paham kok.

Jadi menurut saya Me time penting sekali bagi ibu rumah tangga, setidaknya ada waktu sejenak  untuk melepaskan kepenatan dari aktivitas yang dijalani, bahkan membantu menghilangkan jenuh dan stres yang datang.

Rutinitas sehari-hari IRT terkesan biasa saja, padahal juga menguras tenaga dan pikiran wanita. Saya yakin dengan Me time pikiran dan fisik akan lebih fresh dan tetap bersemangat menyambut hari berikutnya.

Rempong? Ribet? Repot? Sudahlah, itu udah jadi makanan ibu-ibu dimana saja.

Jangan dikira saya tidak pernah kerepotan ya. Tapi saya menyiasatinya dengan beberapa hal. Kalau Bunda juga pernah kerepotan dan pusing tujuh keliling, mungkin saran saya ini bisa bermanfaat.

Saran saya, janganlah merasa menjadi Superwoman, alias semua dipikirkan dan dikerjakan sendiri, jangan lupa libatkan suami dan anak-anak untuk diskusi bahkan membantu sedikit pekerjaan rumah, misalnya menjaga si bungsu saat kita akan beraktivitas keluar rumah, tentunya mereka akan membantu dengan senang hati bila diminta.

Bunda Yuke bersama putra pertamanya M. Yasin Haifani.

Hingga kini, jujur saya belum merasa berhasil dalam menjalankan peran penuh sebagai IRT yang baik dan benar. Mungkin baru sebatas 70 persen.

Masih banyak yang saya rasa kurang, namun saya tetap berusaha menikmati dan menjalani semuanya dengan rasa syukur walau belum sempurna.

Kalau saya yang penting sih kebutuhan anak-anak dan suami masih bisa terpenuhi. Rutinitas rumah tangga yang berhasil bagi saya membutuhkan proses belajar yang panjang, yang tentu saja juga dibutuhkan kesabaran, keikhlasan, bahkan komitmen bersama suami untuk menjalankannya.

Prinsipnya agar urusan rumah tangga dapat berjalan seimbang antara lain dengan membuat perencanaan kasar dulu di awal apa yang akan saya lakukan sehari sebelumnya, lalu dipikirkan atau dicatat bila perlu, kemudian esoknya baru dilakukan.

Bunda Yuke bersama sang suami tercinta Muktaf Haifani

Bila ada kendala selalu ajak suami untuk diskusi dari a hingga z agar bisa mendapatkan solusi bersama, jika perlu saya juga melibatkan anak-anak saya untuk sekedar mendapat sebuah kesepakatan.

Sebagai IRT, saya memang masih jauh dari sempurna namun tetap berupaya memberikan yang terbaik untuk keluarga semampunya. Setidaknya saya masih harus banyak diskusi, menggali banyak informasi dan belajar tentang rumah tangga dari para ibu muda indonesia  yang ada di Jerman ini.

Perjuangan suami dan anak-anak masih panjang, saya masih harus mendukung mereka untuk menjalani hari-hari meraih asa dan cita di sini hingga 2 tahun ke depan. Karena dibalik keluarga yang sehat, cerdas, sukses, selalu ada ibu-ibu yang hebat pula. 

Saya, Bunda Hebat Anti Rempong…

JOIN THE CONVERSATION

Close Menu

JOIN THE CONVERSATION

saya bunda hebat

Silahkan masukkan alamat email Bunda dan nomor telepon pada formulir dibawah ini. Dan dapatkan Guide Book Bunda Hebat Anti-Rempong.