Rempongnya Ibu Pekerja, Semua Urusan Rumah & Kantor Harus Beres – Bunda Atul
bunda-atul

Menjalani peran ganda sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga itu membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Kalau tak kuat, akan angkat tangan dan menyerah. Tapi itu tak berlaku di kamus saya dan mungkin banyak ibu-ibu rempong lainnya.

Ya, jangan sampai hal ini membuat saya Sabingatul Khoiriyah kalah apalagi menyerah. Tidak! Karena Sampai saat ini, saya masih sanggup menjalani semuanya.

Yups, mengurus rumah dan bekerja selalu berhasil menghabiskan tenaga saya, waktu untuk jalan-jalan ke mall atau menonton film di bioskop saja sudah tak ada. Kalau sudah pulang kerja di sore hari, saya langsung pulang meneruskan kegiatan di dalam rumah.

Saya sadar, saat ini saya adalah seorang ibu dari satu anak berusia 6 bulan. Namanya Amir Assyafiq. Nama yang indah bukan. Nama itulah yang selalu saya ingat saat berada di kantor. Sebagaimana semua ibu, saya ingin selalu bersamanya sepanjang waktu. Tapi pekerjaan mengharuskan saya meninggalkan bayi mungil itu selama 8 jam sesuai dengan waktu kerja.

Jadilah saya menitipkan Amir di rumah neneknya. Pagi sampai sore hari Amir bersama nenek dan selama ini tidak ada masalah. Neneknya mengerti kondisi saya dan sama sekali tidak merasa keberatan ikut menjaga Amir. Neneknya pun merasa senang bisa ikut merawat cucu.

Sebelum menitipkan di neneknya, saya selalu memastikan Amir sudah mandi dan wangi. Tidak pernah sekalipun Amir dititipkan dalam keadaan kotor maupun tidak terurus. Saya tak ingin neneknya jadi ikut repot harus memandikan di pagi hari.

Setiap hari saya bangun sebelum fajar menyongsong. Bayi mungil saya pun kerap bangun pukul setengah empat pagi. Otomatis emaknya pun tak bisa menolak untuk bangun dan menemaninya.

Ya, sepagi itu si kecil sudah terjaga, mengajak ibunya bicara dan tertawa bersama. Itu pagi yang indah. Bahkan sangat indah. Saya pikir, salah satu kebahagiaan menjadi ibu adalah dibangunkan setiap pagi oleh senyum anaknya. Saya yang berusia 25 tahun ini juga sedang menikmati momen itu.

Amir itu kalau bangun ya pagi banget lalu tertidur lagi usai subuh. Kalau saya? Ya lanjut dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Berperan sebagai ibu rumah tangga sejati, memasak, mencuci, dan sesekali mengepel rumah. Pendeknya, saya bereskan urusan rumah usai shalat subuh.

Beruntung, saya tak pernah mengerjakan semua itu sendirian. Ada suami siaga yang selalu siap menemani istrinya membereskan pekerjaan rutin dalam rumah. Jadilah kami berbagi pekerjaan. Saya memasak dia mengepel atau menyapu rumah. Berbagi pekerjaan adalah cara kami menghabiskan pagi setiap harinya.

Kalau saya lelah, suami juga ikut merasakan. Jadi, nggak ada alasan untuk mengeluh karena merasa mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Alhamdulillahnya, Suami selalu bersedia membantu istri kesayangannya ini, hehe..

Nah saat Amir bangun lagi, saya harus memandikannya. Kalau mengepel atau mencuci baju bisa dibagi dengan suami, saya sih bersikeras harus memandikan Amir. Pokoknya mau apa yang erjadi Amir harus dimandikan ibunya sendiri, itu juga momen terindah sebagai ibu.

Kalau jam udah menunjukkan pukul tujuh, itu artinya saya dan suami berangkat ke kantor masing-masing. Sementara Amir dititipkan. Begitulah pagi bermula di rumah kami yang sederhana. Rutinitas seperti ini saya jalani dengan santai dan bahagia. Bagaimana tidak, saya dibangunkan senyuman anak dan dibantu melakukan tugas rumah oleh suami.

Jadilah saya bisa bekerja dengan tenang. Fokus memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan tempat saya melewati hari. Teman-teman sekantor juga sangat menyenangkan. Di sela-sela bekerja, kami masih sempat bercanda dan tertawa. Mereka sangat menyenangkan. Mereka sudah saya anggap keluarga sendiri.

Meski dituntut target, saya menikmati pekerjaan ini. Entah nanti bagaimana, yang pasti bekerja terasa menyenangkan buat saya.

Sampai saat ini saya masih kuat menjalani peran ganda itu, sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita karir. Tak ada alasan untuk meninggalkan salah satunya.

Memang, tidak sedikit orang yang melempar pandangan sinis pada saya. Mereka anggap saya ini tak mau mengurus anak. Tega meninggalkan anak yang masih bayi bersama neneknya sementara saya bekerja di luar sana.

Mereka anggap saya ini ibu yang tidak bertanggung jawab. Padahal tidak. Pandangan demikian salah dan sudah kelewat batas. Mereka tidak benar-benar tahu kondisi keluarga saya. Lagian selama jalan yang kita lalui benar, anggap aja omongan yang gak enak didengar sebagai kaset rusak, hehe..

Toh saya bekerja hanya demi anak. Masa depan anak saya masih panjang dan membutuhkan dukungan penuh dari orangtuanya. Bekerja adalah sebuah jalan untuk membesarkan anak saya dengan baik. Maka terhadap semua pandangan miring dari orang-orang yang gemar nyinyir, tak saya pedulikan.

Pokoya selama suami dan ibu mertua saya tidak mempermasalahkannya, saya akan tetap melalui jalan ini. Ibarat lirik lagu ‘Demi kau dan si buah hati, terpaksa aku harus begini’. Ya bekerja setiap hari mencari rejeki demi anak dan keluarga.

Lagipula, saya juga masih sempat mengurus Amir setiap hari. Memang sih tidak sepanjang waktu. Tapi pagi dan malam saya hanya untuk anak. Saya tidak pernah mencoba meninggalkan Amir untuk bersenang-senang sendirian. Bekerja adalah usaha mewujudkan rasa cinta pada Amir secara nyata.

Saya tak ingin selalu mengandalkan suami. Sedikit-sedikit minta uang. Itu tidak baik. Istri yang hebat selalu berusaha meringankan beban suaminya. Tidak bergantung. Mandiri. Tapi tetap cinta keluarga.

Bagi saya, istri hebat itu dia yang mempunyai penghasilan sendiri. Itu berarti membantu suami dalam mencari nafkah. Bersama suami membanung rumah tangga yang baik dan membesarkan si kecil sampai dewasa nanti. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?

Jadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karir adalah pilihan terbaik saya saat ini. Mungkin jika suatu hari nanti saya akan berhenti bekerja. Itu karena suami yang menyuruh. Sebagai istri soleha nan berbakti, pasti saya akan langsung berhenti dan taat pada suami, ciee..

Beruntungnya selama ini suami masih mengijinkan dan tidak pernah mempermasalahkannya. Sebab saya masih mampu menggurus Amir dengan baik. Tidak mengabaikannya sama sekali.

Ya saya akan berhenti bekerja jika saja saya sudah siap membangun usaha sendiri. Tidak besar sih. Mungkin seperti online shop atau toko kecil. Itu saja sudah cukup. Saya anggap pekerjaan saat ini sebagai wadah belajar untuk bekal masa depan nanti.

Meski betah bekerja, saya masih punya harapan bisa bersama anak sepanjang waktu. Dan caranya adalah dengan membuat usaha sendiri agar saya bisa selalu menemani anak.

Tapi kayanya itu masih beberapa tahun lagi. Saya tahu kok betapa berharganya waktu bareng anak. Semua ibu menginginkan itu. Saya merasa masih beruntung dapat bertemu anak setiap hari. Walau terpotong delapan jam waktu bekerja, tapi itu masih baik adanya. Kalau kita bersukur dan bisa menikmati hidup, semua pasti terasa indah.

Masih banyak di luar sana ibu yang hanya bisa bertemu anaknya seminggu sekali, sebulan sekali, atau bahkan satu tahun sekali. Untuk ibu yang jarang bertemu anaknya, pesan saya harus semangat, ya. Suatu hari nanti pasti ada waktu untuk menuntaskan rasa rindu pada sang buah hati. Percayalah.

Untuk saat ini saya coba menikmati setiap detik bersama anak. Melihat setiap tahap yang ia lalui membuat hati bahagia. Kamu sudah bisa merangkak, Kamu sudah bisa makan sayur, gigi-gigi kecilmu mulai tumbuh, dan Kamu selalu mengajak Bunda bicara atau tertawa. Hidup dan matiku hanya untukmu, nak.

Rasa lelah usai bekerja lenyap seketika saat melihat Amir tersenyum. Rasa jenuh hilang saat bersama buah hati. Bersama Amir, saya tahu untuk siapa semua kerja keras selama ini.

Anak itu seperti sumber mata air yang memberikan kesegaran untuk kehidupan. Meski bangun sejak pagi buta dan bekerja, hidup saya terasa bahagia. Amir akan saya jaga seumur hidup.

Semua ibu merasakan penantian yang panjang dan tidak mudah sebelum momongannya lahir. Rasa stres saat hamil, pusing, dan badan yang berat adalah tantangan untuk sampai ke tahap ini.

Saya selalu ingat betapa panjangnya penantian itu. Kini Amir berusia enam bulan dan selalu berhasil membahagiakan Bundanya ini. Saya ingin membalas kebahagiaan yang Ia berikan dengan bekerja keras. Menjadi Ibu sekaligus wanita karir hanya diperuntukkan bagi kebahagiaan sang buah hati, Amir Assyafiqku tercinta.

JOIN THE CONVERSATION

Close Menu

JOIN THE CONVERSATION

saya bunda hebat

Silahkan masukkan alamat email Bunda dan nomor telepon pada formulir dibawah ini. Dan dapatkan Guide Book Bunda Hebat Anti-Rempong.