Tidak Ada Rempong, Bila Semua Keluarga Saling Bantu – Bunda Anik
bunda-anik

Saya tidak pernah menyangkan jalan hidup akan mengantarkan saya menjadi seorang pengajar parenting. Padahal dulunya saya hanya bekerja sebagai seorang cleaning service.

Orang tua memberi nama pada saya, Anik Sri Handayani. Suami saya bernama Ahmad Rosyid, ia bekerja sebagai teknisi dis ebuah bengkel mobil.

Sebelum menjadi pengajar parenting, saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang nyambi punya usaha kecil-kecilan menjadi tukang jahit rumahan, itupun jika ada tetangga yang membutuhkan.

Saat usia Amil yang beranjak dewasa, saat ia duduk di kelas 2 SMP, saya melahirkan anak kedua yang saya beri nama Arina Naima Rosyida. Kelahirannya tentu membuat kebutuhan rumah juga bertambah, sedangkan pemasukan tetap saja sama seperti biasanya yang hanya mengandalkan pendapatan utama dari suami.

Bekerja sebagai ibu rumah tangga pasca menikah dengan aktivitas yang itu-itu saja, jujur saya merasa bosan. Hingga saya pun berinisiatif mencari kerjaan untuk menambal kebutuhan keluarga, sekaligus menghilangkan perasaan jenuh di mana setiap hari hanya mengurusi dapur.

Saya pun memberanikan diri minta ijin pada suami dan disetujui, berkat koneksi dari suami pula saya ditawarkan pekerjaan.

Tepatnya pada tahun 2005 saya ditawarkan oleh Pak Syaiful, kepala sekolah di salah satu Taman Kanak-kanak (TK) menjadi cleaning service. Jobdesc-nya cuma bersih-bersih sekaligus mengasuh anak di sekolah. Yah saya berpikir tak apalah. Walau  saya tahu gajinya mungkin tidak seberapa buat ibu yang memiliki dua anak, saya berprinsip daripada hanya menganggur di rumah, lebih baik saya erima tawaran itu.

Suami juga berkata pada saya, kerja dimana pun tidak masalah, yang penting halal, tidak merugikan banyak pihak, dan juga mampu untuk menjalaninya. Saya pun semakin semangat dan sama sekali tak ada keraguan dalam hal ini, saya yakin apa yang Tuhan berikan ini pasti yang terbaik untuk saya dan keluarga.

Dari situ saya menjalani hari-hari sebagai seorang pengasuh sekaligus Cleaning service, saya pun menikmati dan mulai terbiasa dekat dengan lingkungan anak-anak. Saya juga banyak belajar perihal karakter anak-anak, ada yang pendiam, rewel, sering berantem dan lain sebagainya.

Sungguh kesabaran saya lebih teruji dibandingkan dengan mengasuh anak-anak sendiri. Tapi waktu itu posisiku bukan sebagai pengajar dan pendidik, hanya sebatas pemantau saja. Sementara untuk hal lainnya seperti menasehati anak hanya guru yang berhak melakukannya.

Menginjak tahun kedua, Pak Saiful kembali menawari saya untuk mengajar iqra’ (ngaji) buat anak-anak, dan saya pun mau. Tentu ini ada tambahan pekerjaan lagi, selain jadi cleaning service dan mengasuh anak, kini saya dapat tantangan baru dengan mengajari bacaan Iqra’ buat anak-anak di saat jam istirahat, sekitar pukul 09.00 WIB waktu itu.

Rutinitas itu saya kerjakan kurang lebih satu tahun setengah. Saya menikmati saja, jika ditanya persoalan sibuk dan ribet tentu ribet. Akan tetapi saya punya motivasi untuk membesarkan anak yang ketika menatap kedua matanya, itulah yang  jadi sumber kekuatanku setiap harinya.

Terus terang saya bangga, sebab saya bisa menjalani hidup berkeluarga dengan kompak bersama suami, karena dengan kekompakan dalam sebuah keluarga akan  memberikan jamin lebih sempurna daripada hanya dibebankan dalam satu pundak, yakni suamiku saja.

Entah kepercayaan apa yang bisa membuat banyak orang begitu yakin pada saya selama ini, tiba-tiba Pak Syaiful kembali menawarkan saya untuk mengajar anak PAUD (pendidikan Anak Usia Dini), tentu ini berita baik buatku, saya juga tidak berani menolaknya. Itu artinya Tuhan menuntun saya pada proses yang lebih baik, dan juga terus belajar menjadi ibu dan guru yang baik.

Awalnya saya gugup, sama sekali tidak mempunyai pengalaman mengajar anak, saya hanya mempunyai bekal mengasuh anak saja. Tentu ini tak cukup menjadi guru buat anak-anak, terutama dari usia dua setengah sampai tiga setegah tahun. Karena umur segitu merupakan karakter anak yang mulai bisa dibentuk sampai usianya dewasa. Tentu juga bukan tanggung jawab yang mudah bagi saya sebagai pengajar yang hanya berbekal pengalaman.

Demi tanggung jawab itu akhirnya saya belajar secara mandiri di rumah dan ikut pelatihan PAUD di setiap akhir pekan. Tahun 2007 akhir saya kuliah ilmu PAUD di UT, dan sampai hari ini saya menjadi guru tetap di TK IT Salsabila Banguntapan bantul.

Adapun kegiatan yang lain, di hari Selasa – Kamis saya membuka les buat anak-anak di rumah dari pukul 16:00-18:00 Wib, namanya les Ahe dan Ase, (anak hebat dan menghitung ala sekolah). Tentu ini semua butuh proses, namun saya selalu semangat untuk belajar lebih baik lagi, Alhamdulillah semua fasilitas bekerja untuk keperluan suami kini bisa saya tanggung walaupun ia hanya bekerja sebagai tukang bengkel.

Di les Ahe dan Ase saya tidak pernah mematok harga, semua dilakukan dengan iklas. Prinsipnya, sampai kapan pun saya harus bisa menjadi guru bagi banyak anak-anak bagi, dan tidak hanya terbatas di kelas saja, tapi sejauh mana saya bisa berbuat baik untuk mencerdaskan anak-anak.

Saya juga memberikan kesempatan untuk orang yang tidak mampu supaya bisa belajar dengan tanpa dipungut biaya. Ada juga orangtua murid yang setiap bulannya memberikan uang jasa sekitar Rp 50 ribu perbulan, bahkan ada yang Rp 200 ribu per bulan, semua saya sukuri.

Tapi bukan itu tujuan kami, sebagai guru parenting, menurut saya proses tumbuh kembang anak harus diimbangi dengan kecerdasan anak yang baik pula. Apalagi perkembangan zaman, yang saat ini banyak bersentuhan dengan berbagai permainan yang kurang edukatif, sehingga dapat menghambat kecerdasan anak. Oleh sebab itu dengan membuat les, saya berniat menciptakan lingkungan anak yang terdidik dan Atraktif.

Mengasuh anak yang bukan darah daging sendiri memang bukanlah perkara yang mudah. Jika anak sendiri lebih mudah kita menegurnya, tetapi kalau anak orang lain diperlukan kesabaran, saya harus tau satu persatu karakter anak-anak didik, baik di sekolah maupun di rumah.

Bagaimana caranya? Ya saya perlu membangun hubungan khusus dengan orangtua serta wali murid dari sekian banyak anak. Banyak yang harus diketahui, mulai dari kebiasaanya sehari-hari, nutrisi yang dipakai sampai pada hal apa saja yang tidak boleh saya lakukan sebagai seorang guru. Semisal apakah saya boleh memarahi anak-anak ketika ia bandelnya keterlauan dan lain sebagainya.

Begitulah kegiatanku setiap harinya, bergelut dengan rutinitas yang bagiku tidak mudah untuk dilakukan. Jika ditanya kapan istirahatnya, jujur saja saya jarang sekali beristirahat, hampir separuh waktu selain tidur, ya aktivitas hanya untuk anak-anak.

Kalau malam hari, ya saatnya bekerja sebagai seorang istri melayani suami, habis subuh, masak untuk sarapan lalu mencuci pakaian anak-anak, memandikan anakku yang ketiga, Arief Athaya Rosyidin, bersih-bersih rumah bareng keluarga, kalau semua sudah beres langsung cus ke sekolah.

Apalagi, kegiatan belajar mengajar di sekolah, hampir di semua lini saya terlibat, dari mulai masuk, jam istirahat pertama yang harus mengawasi anak-anak, jam tidur siang di sekolah sampai menunggu jemputan sore hari dari orangtua masing-masing anak, karana sekolah kami sudah Full Day School.

Sore harinya saya mengajar les di rumah, lain lagi ketika ada pekerjaan admistrasi di sekolah, saya harus lembur sampai larut malam.

Di akhir pekanlah saya baru bisa menghabiskan waktu di rumah bersama anak, terkadang juga keluar jalan-jalan.

Sebenarnya tak ada kiat atau tips hebat dalam mengatasi kesibukan yang saya jalani ini selain kekompakan di dalam rumah tangga, serta saling mendukung satu sama lain. Intinya di dalam rumah tangga tidak ada yang boleh saling mendzalimi, karena bagi seorang perempuan sampai kapan pun keluarga tetap nomor satu walaupun sibuk di luar rumah.

Yakin saja pada diri sendiri, bahwa kita mampu mengelola semuanya. Saling bekerja sama antar suami dan anak, karena kita hidup bersama tetap membutuhkan bantuan dari semua anggota keluarga.

Lalu, setelah itu teriakkan dengan bangga, Saya Bunda Hebat Anti Rempong!

JOIN THE CONVERSATION

Close Menu

JOIN THE CONVERSATION

saya bunda hebat

Silahkan masukkan alamat email Bunda dan nomor telepon pada formulir dibawah ini. Dan dapatkan Guide Book Bunda Hebat Anti-Rempong.